Kenapa Orang Dzalim Kok Hidupnya Selalu Enak? Ini Jawaban yang Mengejutkan Anda

Berdakwah - Diantara kita mungkin pernah berfikir kenapa
orang yang telah berbuat dzolim, ingkar dan menyakiti orang lain tetap hidup makmur dan bebas? Berbeda dengan orang yang beriman yang justru tidak henti-hentinya mendapat cobaan dalam berbagai bentuk dari Allah SWT. Lantas, adakah alasan Allah SWT melakukan demikian?
Pertanyaan ini tanpa disadari dapat mengundang diri untuk mempertanyakan keadilan Allah.   Walau kondisi  seseorang tidak sebaik mereka, yakinlah Allah telah menyelamatkan diri tidak diserupa dengan mereka dan masih memberi kekuatan diri untuk terus beribadah kepada-Nya.
Kenapa Orang Dzalim Kok Hidupnya Selalu Enak? Ini Jawaban yang Mengejutkan Anda
Sumber : id.gofreedownload.net
Lantas mengapa orang yang sudah zalim dan ingkar kepada Allah masih diberikan rezeki, kesehatan, tidak ditampakkan dosanya dan tidak disegerakan sangsi kepadanya. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Saad bin Hilal berkata bahwa meski dzalim dan selalu melanggar perintah Allah, orang dzalim tetap tetap memberinya 4 anugerah kepadanya:

1. Orang dzalim tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki
Allah SWT memiliki sifat Rahman yakni kasih Allah pada semua manusia, dan rahiim kasih sayang Allah hanya untuk orang beriman saja kelak di akhirat. Nah orang dzalim mendapat kasih sayang berupa rahman, jadi meski Ia dzalim atau kafir, tetap saja mendapatkan nikmat Allah ini. Namun Rahman  Allah itu hanya sebatas di dunia saja. 

Akan tetapi orang dzalim tidak akan mendapatkan sifat rahiim, karena sifat ini hanya untuk kasih sayang Allah hanya untuk orang beriman dari mulai di dunia dan di akhirat. Seperti dalam surat Al-Israa’ ayat 20 berikut ini. 

Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu  Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 20).

Orang dzalim  adalah orang yang menginginkan kehidupan di dunia saja. Mereka bahkan disegerakan diberi keduniawaian sebagaimana yang mereka minta.

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 19).

Perhatikan secara jelas dan seksama orang zalim itu, tentu bukan dengan pandangan kedengkian karena kelebihan materi mereka, apakah sejujurnya mereka bahagia dan tenang dengan harta yang didapatnya itu, lantas bagaimana kehidupan keluarganya.

Ternyata ketenangan dan kebahagian hanya muncul dipermukaan, namun didalamnya hati mereka sudah tentu gersang. Manifestasinya terlihat dengan  tiada henti mereka mengejar kedudukan, kekayaan dan kelezatan hidup. Apa yang sudah didapat walau melimpah, masih terus dianggap kurang.

Dengan demikian tidak perlu kuatir dengan orang zalim yang malah mendapatkan apa apa yang mereka inginkan di dunia. Jika tiba waktunya yang dijanjikan Allah maka segala harta kekayaannya tidak dapat dijadikan penebus untuk membebaskan dirinya dari siksanya yang pedih yang telah disiapkan Allah.

2. Orang dzalim tidak terhalang untuk mendapat kesehatan
Sifat Allah Rahman juga berlaku untuk kesehatan. Setiap orang yang dzalim tidak terhalang untuk mendapat kesehatan. Selain karena izin Allah SWT, kesehatan didapat karena dibarengi dengan pola hidup sehat dan olahraga. 

Bagi mereka yang dzalim namun tetap menjaga pola hidupnya, maka  Allah SWT tetap menganugerahkan kesehatan karena usahanya tersebut. Akan tetapi ini tidak berlaku jika Allah menginginkan hambanya yang dzalim sakit, meski Ia telah menjaga pola hidup sehat dan berolahraga, namun akan tetap mengalami sakit dengan izin Allah. 

3 Allah tidak akan menampakkan dosanya semasa hidup di dunia
Allah tidak akan memperlihatkan dosa semasa di dunia kepada orang dzalim. Ia hanya akan mengetuk pintu bagi orang terpilih tentang beratnya azab neraka terhadap dosa yang telah dilakukan di dunia.

Memperlihatkan dosa semasa hidup juga termasuk nikmat Allah, bagaimana tidak, dengan begitu manusia akan mengingat kematian dan akhirnya beralih menjadi lebih baik lagi. Namun kepada orang dzalim, Allah tidak menganugerahkan hal tersebut. Mata hati mereka tertutup dan tidak bisa melihat dosa-dosa yang telah mereka lakukan. 

4. Allah tidak menyegerakan hukumannnya di dunia
Bagi mereka yang dzalim, Allah juga tidak menyegerakan hukumannnya di dunia. Namun hal ini bukan berarti orang dzalim luput dari pengawasan Allah SWT. Allah hanya menangguhkan atas mereka. Terhadap rahmatNya  yang tetap diberikan kepada manusia yang jelas-jelas ingkar, menunjukkan kesabaran Allah atas semua ciptaan-Nya.

Firman Allah: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,  (Ibrahim :42)

Firman Allah : Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. (Al Anam : 120)

Dengan demikian tidaklah usah irilah dengan mereka karena Allah hanya menangguhkan. Bukan kah hidup di dunia hanya sementara, di sinilah kita diwajibkan mendapatkan bekal untuk mendapatkan surga di akhirat kelak.

Sumber : infoyunik.com

Inilah Tanda Amal Ibadah Kita Diterima Atau Ditolak Oleh Allah SWT, Apa Sajakah?

Berdakwah - ALLAH Ta’ala menciptakan kehidupan dan
kematian sebagai salah satu ujian untuk menunjukkan siapakah yang paling baik amalnya. Setiap amal akan diberi balasan secara adil. Tiada sedikit pun kezaliman.
 
Bagi pelaku kebaikan, baginya satu pahala saat berniat dan bertambah satu hingga sepuluh kali lipat sampai tak terhingga ketika niatnya benar-benar menjadi amal shalih. Sedangkan bagi mereka yang berniat buruk, niatnya tidak diberi dosa hingga keburukan benar-benar dikerjakannya. Inilah di antara bentuk Maha Pengasih dan Penyayang-Nya Allah Ta’ala kepada Hamba-hamba-Nya.
Inilah Tanda Amal Ibadah Kita Diterima Atau Ditolak Oleh Allah SWT, Apa Sajakah?
Sumber: Google.com
Amal shalih menjadi salah satu tanda bahwa seseorang tidak termasuk kelompok yang merugi. Ia bersanding manis bersama iman, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bernasihat agar senantiasa berada dalam kesabaran. Selain keempat hal ini, Allah Ta’ala memastikan, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.”
Dalam banyak ayat al-Qur’an juga disebutkan, siapa yang beriman dan beramal shalih, ia termasuk kelompok manusia terbaik yang berhak mendapatkan surga. Meskipun, para ulama sepakat bahwa amal hanya menjadi perantara. Sebab surga hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang mendapatkan Rahmat Allah Ta’ala.
Persoalannya, tidak semua amal diterima. Sebagaimana sebuah percobaan dalam penelitian yang tidak semuanya berhasil, begitu pula amal shalih. Banyak faktor yang menyebabkan sebuah amal diterima atau ditolak. Bermula dari niat, cara dalam beramal, dan faktor-faktor lain di sepanjang dan setelah melakukan amal.
Lantas, bagaimana cara mengetahui diterima atau ditolaknya sebuah amal? Berikut penjelasan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. 
 
“Tanda diterima amal adalah ketika suatu ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba bisa menuntunnya menuju ketaatan lain yang lebih tinggi.”
Berkelanjutan. Itulah di antara tanda diterimanya amal. Maka lihatlah, mereka yang tetap beramal selepas Ramadhan, misalnya, dan terus-menerus mengeja taat hingga sebelas bulan selepas berlalunya bulan suci.
Amal shalih yang berketerusan ini pula yang akan menggerakkannya untuk melakukan ketaatan-ketaatan lain berupa memakmurkan bumi-Nya. Amal-amal yang diterima ini akan menggerakkan seorang hamba untuk memperbaiki kualitas wawasan keilmuannya, akhlaknya, kehidupannya, dan masyarakatnya secara luas.
“Adapun tanda ditolaknya amal adalah ketaatan yang diikuti dengan perbuatan maksiat. Perbuatan baiknya tidak mampu mencegahnya dari keburukan.”
Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang ‘shalat terus maksiat jalan’? Banyak pula di antara mereka yang pagi mendirikan shalat, siangnya korupsi, menjelang sore berinfaq, dan malamnya masuk ke tempat hiburan yang diharamkan. Amat mengerikan.
Di antara catatan lain yang patut kita perhatikan, jangan sampai merasa banyak beramal, padahal hanya sedikit amalnya yang diterima.
Ya Rabb kami, terimalah dari kami amal-amal shalih kami. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Sumber : kabarummat.com

Jika Anda Miliki 3 Hal Sederhana Ini, Maka Rasanya Bagaikan di Beri Dunia dan Seisinya

Berdakwah - Manusia biasanya menjadikan kekayaan
materi sebagai tolak ukur dalam mencapai kebahagiaan. Efeknya, mereka akan melakukan segala cara demi mendapatkan kelimpahan harta tanpa rasa puas. Jika sudah mendapat sesuatu, mereka ingin yang lebih banyak lagi sehingga hidup hanya berorientasi pada dunia.
Pada akhirnya, orang yang berorientasi pada kekayaan harta akan lupa dengan kehidupan di akhirat. Mereka hidup bermewah-mewahan dengan karunia nikmat yang berlimpah. Padahal di dalam agama Islam telah diajarkan bahwa kita harus menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan.


Jika Anda Miliki 3 Hal Sederhana Ini, Maka Rasanya Bagaikan di Beri Dunia dan Seisinya
Sumber: Infoyunik.com
Bersyukur atas segala nikmat Allah menjadi suatu hal yang dianjurkan. Kesempurnaan hidup tidak hanya terletak pada harta. Bahkan, hanya dengan memiliki tiga hal saja bisa membuat seseorang bagai diberikan dunia dan isinya. Tiga hal apa yang dimaksud? Berikut informasi selengkapnya.
 
1. Tubuh yang Sehat

Bagaikan diberi dunia dan seisinya apabila seseorang memiliki tubuh yang sehat. Dengan tubuh yang sehat tersebut, seorang hamba dapat melakukan ibadah dan segala amalan kebaikan secara optimal. Lain halnya apabila tubuh berada dalam kondisi tidak sehat.

Memiliki mata yang sehat, bisa membantu untuk membaca Al-Qur’an dan melihat bukti kekuasaan Allah SWT berupa indahnya alam semesta. Telinga yang sehat mampu mendengar ayat-ayat-Nya dan kalimat kebaikan lainnya yang bernilai ibadah. Mulutpun demikian, ketika dalam keadaan sehat bisa digunakan untuk memuji dan mengingat Allah SWT yang Maha Mulia lagi Maha Agung.

Begitu pula bagian tubuh lainnya seperti kaki, tangan , organ dalam dan seluruh potensi fisik yang diberika oleh Allah SWT. Jika semua itu dalam keadaan sehat, maka bisa dijadikan sebagai sarana untuk semakin dekat dengan Allah SWT dan menjadi parameter kekayaan asasi seorang hamba.

2. Hati Merasa Aman
Hal kedua yang apabila dimiliki serasa diberikan dunia dan seluruh isinya adalah hati yang merasa aman. Hati yang merasa aman ini meliputi hati yang bersih dan jauh dari prasangka buruk. Sudah sepantasnya sebagai sesama makhluk kita harus berbaik sangka kepada orang lain. Tidak boleh ada dendam.

Kehidupan ini harus didominasi dengan niat untuk senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Dengan hati yang merasa aman, maka orang tersebut tidak akan pernah merasa terancam keselamatan jiwanya, sebab akhlaknya mempesona kepada semua manusia. Hati merupakan sumber kebaikan bagi sekujur tubuh.

3. Makanan untuk Hari Ini
Hal terakhir yang diberikan Allah seperti diberi dunia dan isinya adalah makanan untuk hari ini. Agama Islam mengajarkan pemeluknya untuk fokus pada apa yang dijalani saat ini. Jangan terlalu berfokus pada hal yang sudah berlalu dan masa depan yang belum pasti, namun syukurilah nikmat yang diberikan Allah saat ini.

Apabila memiliki rezeki yang memang untuk hari ini maka jangan menimbunnya untuk sekian lama. Boleh memikirkan masa depan, namun jangan hidup dengan kegalauan untuk memikirkan esok yang sangat panjang. Dengan bersyukur atas pemberiaan Allah, maka hidup akan menjadi lebih bahagia.

Demikianlah informasi mengenai miliki tiga hal yang rasanya seperti diberikan dunia dan seisinya. Apabila ketiga hal tersebut sudah dimiliki, maka percayalah dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam kitab az-Zuhd ini, “Maka seolah-seolah telah diberikan kepadanya dunia dengan segala isinya.”


Sumber: Infoyunik.com

Ketahui! Inilah Sanksi Jika Pria Berpakaian Melebihi Mata Kaki, Apa Saja?

Berdakwah - Bagi kaum muslim pakaian merupakan
salah satu identitas diri. Ada aurat yang harus ditutupi sebagai jalan menjaga kehormatan. Bagi wanita, pakaian yang dikenakan harus menutupi seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Berbeda dengan wanita, pria juga memiliki aturan berpakaian tersendiri. Salah satunya tidak boleh berpakaian melebihi dari mata kaki atau disebut dengan isbal. Model berpakaian seperti ini sering kali membuat pria muslim terlihat aneh.


Ketahui! Inilah Sanksi Jika Pria Berpakaian Melebihi Mata Kaki, Apa Saja?
Sumber: Infoyunik.com
Sebagian mengatakan bahwa hal ini tidak mengikuti perkembangan fashion, terlalu kuno, dan terlihat asing. Tapi perlu diketahui, jika melanggar aturan ini akan mendapat sanksi dari Allah SWT yang begitu pedih. Seperti apa sanksi pria yang berpakaian melebihi mata kaki? Berikut ulasannya.

Berpakaian Isbal atau menjulurkan kain di bawah mata kaki terlarang dalam Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW melarang keras umatnya melakukan hal tersebut. Hukuman yang dijanjikan Allah SWT pada golongan ini adalah neraka. Nabi SAW menjelaskan dalam hadistnya yang berarti:

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)

Nantinya orang yang melakukan Isbal pada hari kiamat juga tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan sama sekali dipandang dan tidak akan disucikan. Siksaan pedih juga menanti mereka yang menjulurkan pakaiannya. Dalam hadist riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim, 106)

Berdasarkan dalil di atas para ulama sepakat bahwa hukum isbal atau memanjangkan pakaian melebihi mata kaki adalah haram. Namun ada pendapat ulama lain yang menyatakan makruh, jika melakukannya dengan tidak ada unsur sombong.

“Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”. (HR. Bukhari, 3485)

“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari 5788)

Terkait halnya dengan pakaian yang dibawah mata kaki, maka perbuatan itu melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Ketika di katakan dalam hadist, Ada lima hadist terkait yang disebutkan dalam hadist Bukhari. Disebutkan dalam shahih Bukhori

Pada masa itu pakaian di bawah mata kaki adalah simbol kebanggaan. Beberapa ulama mengatakan bahwa boleh pakaian di bawah mata kaki asalkan tidak sombong.

Namun Dr Zakir Naik mengatakan, yang harus diperhatikan pada sabda Nabi Muhammad SAW Bahwa Allah tidak akan melihatmu pada hari kiamat jika karena sombong. Namun Allah tetap menghukummu jika kainnya dibawah mata kaki, baik karena sombong maupun tidak.

Harus disadari bahwa isbal adalah kesombongan bahkan sampai hari ini. Jika hal itu merupakan perintah Allah dan RasulNya maka tidak ada alasan bagi Muslim untuk membantahnya.

“Beralasan hingga engkau meninggalkan perintah Rasulullah itu juga bentuk kesombongan.

Kamu memang akan tampak seperti pelawak, Namun jika Allah SWT dan Rasulnya ridho maka hal itu bukanlah masalah. Justru ketika kamu tetap melakukannya maka itulah kesombongan. Ungkap Zakir Naik.


Sumber: Infoyunik.com

Inilah Penghuni Bumi Pertama, Makhluk Sebelum Nabi Adam! Siapakah Dia?

Berdakwah - Terdapat dua sejarah yang berbeda mengenai asal mula dunia ini, yakni sejarah mengenai Nabi Adam dan sejarah mengenai manusia purba. Ternyata terdapat satu makhluk yang hidup sebelum Nabi Adam. Lalu makhluk apa yang hidup pada zaman dahulu itu?

Inilah Penghuni Bumi Pertama, Makhluk Sebelum Nabi Adam! Siapakah Dia?
Sumber: Kumpulanmisteri.com
Sebuah dalil mengatakan bahwa sesungguhnya Allah akan menjadikan seorang khalifah di bumi. Kemudian para malaikat bertanya pada Allah apakah Dia ingin menciptakan orang-orang menjadi khalifah dan akan merusak bumi. Padahal malaikat sudah menjadi ciptaan yang taat dan selau bertasbih pada Allah. Allah menjawab jika Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat. Terdapat makhluk sebelum nabi Adam menurut Al-Qur’an.

Sebuah kisah menceritakan jika sebelum nabi turun terdapat para jin yang lebih dulu menghuni bumi ini. Mereka dikelompokkan menjadi abal jan dan banul jan. Kedua kelompok itu selalu bertengkat dan tidak pernah bersahabat. Hal inilah yang membuat malaikat kemudian bertanya apakah Allah akan membuat orang menjadi khalifah sedangkan mereka selalu melakuka pertumpahan darah. Kemudian Allah memerintahkan ‘azajil sebagai pemimpin malaikat jibril, mukail, izroil, dan malaikat lainnya guna menaklukan janul jan dan abal jan di bumi. Setelah kedua kelompok itu bisa dikalahkan, kemudian Allah menciptakan nabi Adam di antara ‘azazil. Allah memberikan ilmu untuk malaikat dan nabi Adam agar bisa menjadi khalifah di bumi. Setelah itu, Allah menguji mereka, namun hanya nabi Adam yang dapat lolos dari ujian itu. Kemudian semuanya diperintahkan oleh Allah untuk sujud pada nabi Adam.

Semuanya pun melaksanakan perintah Allah, kecuali para ‘azajil (bangsa Iblis). Mereka enggan untuk bersujud pada nabi Adam arena kesombongannya mereka membangkang pada perintah Allah.

Manusia tidaklah diciptakan di bumi, tetapi manusia dijadikan khalifah di bumi. Khalifah berarti pengganti, tentunya menjadi khalifah adalah menggantikan nabi Adam bukan makhluk pertama di bumi ini. Allah tidak mengatakan jika khalifah adalah mengganti manusia sebelumnya, tetapi pengganti makhluk di bumi yakni banul jan an abal jan, mereka adalah makhluk sebelum nabi Adam turun ke bumi.

Secara bentuknya, mereka tidak berbeda jauh dengan mannusia. Hal ini bisa dibuktikan dengan bahwa mereka memiliki badan yang sama dengan manusia, yakni banul jan, anak turunan jin. Sedangkan banul ban anak turunan dedemit. Oleh karenanya, ketika mereka tinggal di bumi dan membuat kerusakan di bumi maka malaikat pun memberantasnya hingga mereka berlarian mencari tempat untuk menjauhi anak Anak. Inilah contoh penghuni bumi sebelum manusia.

Menurut fosil-fosil yang ditemukan, membuktikan jika ada makhluk lain sebelum adanya manusia. Mereka mirip dengan manusia tapi lebih primitif. Otaknya lebih kecil sehingga kemampuan dalam berbicara sangatlah terbatas karena tidak banyak suara yang dapat dibunyikan. Kelompok ini disebut Neanderthal.

Setelah itu, datanglah manusia Adan yang dikelompokkan dalam Homo Sapiens. Menurut beberapa sumber, Homo Sapiens ada sejak 200 ribu tahun yang lalu. Sementara Neonderthal ada sejak 130 ribu tahun yang lalu, lalu ia lenyap. Tapi ada juga yang mengatakan jika Neonderthal lenyap sebelum Homo Sapiens muncul. Meskipun terdapat perbedaan pendapat, tapi terdapat satu poin yang bisa kita ambil, yakni Homo Sapiens bukanlah revolusi dari Neonderthal. Mereka hanya memiliki kesamaan dengan manusia Homo Sapiens.
 
Sumber: Kumpulanmisteri.com

Nabi Melarang Anak-Anak Keluar Saat Menjelang Maghrib, Ternyata Inilah Alasannya

Berdakwah - Salah satu sholat yang dilakukan saat kondisi
bumi berpindah dari siang ke malam adalah shalat maghrib. Biasanya orang tua yang mengetahui anaknya tengah main saat harusnya orang shalat maghrib tersebut langsung menyuruh anaknya untuk masuk ke rumah. Konon mitos larangan keluar saat maghrib ini dikarenakan banyak setan atau jin yang bergentayangan di luaran sana. Namun jika waktu maghrib sudah berlalu, orang tua pun membiarkan kembali anak-anaknya untuk bermain di luar.


Nabi Melarang Anak-Anak Keluar Saat Menjelang Maghrib, Ternyata Inilah Alasannya
Sumber: Cahayatasbih.com
Tentunya bagi umat Islam, pelarangan yang dilakukan oleh orang tua tersebut hanya merupakan mitos yang disampaikan secara turun temurun. Biasanya orang tua yang melarang hal tersebut juga pernah mengalami larangan oleh kakek atau neneknya dan tidak mengetahui apakah larangan tersebut ada dalam Al Quran ataupun Hadist.
Namun ternyata setelah diselidiki, memang ada dalam Hadist Nabi dijelaskan bahwa saat maghrib, setan dan jin tengah berkeliaran. Benarkah hal tersebut? Bisakah dijelaskan dengan cara ilmiah? Ternyata sekali lagi Al Quran memang menjadi sebuah kitab yang kebenarannya tidak diragukan lagi dan bisa dijelaskan dengan ilmiah.

Isi hadist tersebut berbunyi “Jangan kalian membiarkan anak-anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam” (Dari Jabir dalam Shahih Muslim).
Dalam Shahih Muslim juga dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Jika sore hari mulai gelap, tahanlah bayi-bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu. Jika sesaat dari malam telah berlalu, maka lepaslah mereka, kunci pintu rumah dan sebutlah nama Allah sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya”.

Hadist yang disampaikan tadi ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah. Hal ini dijelaskan oleh Prof.DR.ir H. Osly Rachman, MS dalam buku yang berjudul “The Science Of Shalat” terbitan Qultummedia. Penulis tersebut menyampaikan bahwa saat menjelang maghrib, alam akan berubah spektrum cahaya berwarna kemerahan. Cahaya tersebut merupakan gelombang elektromagnetik yang setiap warnanya memiliki perbedaan energi, frekuensi serta panjang gelombang yang berbeda.

Perubahan spektrum tersebut ternyata selaras dengan frekuensi bangsa jin dan iblis yaitu spektrum merah. Iblis dan Jin akan bertambah kuat karena memiliki gelombang yang sama dengan alam dunia. Dengan tumpang tindihnya gelombang membuat penglihatan seperti tak jelas dan terjadi fatamorgana.

Agama Islam menjelaskan bahwa setan akan datang bersamaan dengan datangnya malam untuk tujuan mencari tempat tinggal. Bahkan dikatakan bahwa setan yang satu akan takut pada setan yang lainnya sehingga mereka harus mencari tempat berlindung akan hal tersebut.

Dengan gerak berkecepatan melebihi manusia, setan-setan tersebut akan mencari tempat berlindung seperti wadah kosong, rumah kosong dan bahkan duduk diantara orang-orang yang tengah duduk. Manusia tidak akan menyadarinya karena memang setan tidak kasat mata. Setan hanya ingin berlindung dari penindasan setan lain yang berkeliaran di dunia luar. Secara singkat hanya setan yang kuatlah yang bisa berkeliaran dengan bebas.

Kadang setan menggangu anak kecil agar bisa mendapat tempat bernaung. Bahkan dalam popok bayi yang kotor pun setan akan berlindung. Ini karena popok yang kotor terdapat najis dan setan menyukai hal tersebut sebagai tempat berlindung.

Bagi Anda sebagai orang tua tentu beberapa pernah melihat anak-anak yang menjerit tiba-tiba dan bahkan menggelepar dalam tidurnya. Itu dikarenakan gangguan iblis yang merasukinya agar bisa menjadi tempt bernaung.

Saat maghrib pun kita disarankan untuk menjauhi hewan-hewan seperti kucing, burung serta mengurangi kecepatan saat berkendaraan. Karena bisa jadi kita akan menbrak hewan yang sudah dirasuki oleh setan. Kita juga tidak disarankan untuk duduk di tempat yang sepi atau melemparkan batu ke air. Meski awalnya hanya sebuah mitos, namun dengan mengetahuinya bahwa Rasulullah pun menjelaskannya dalam hadist dan bisa dijelaskan secara ilmiah, sudah sepatutnya untuk kita sebagai orang tua agar menjaga anak-anak kita dari waktu tersebut. Alangkah baiknya juga melaksanakan shalat maghrib berjamaah baik itu di Masjid ataupun di rumah bagi perempuan agar terhindar dari gangguan setan dan jin.


Sumber: Cahayatasbih.com